PT Medco dan Blok Andaman Tinggalkan Aceh Jika Tak Berikan Manfaat untuk Pemerintah dan Warga

Dalam diskusi yang diadakan di Langsa, suara kritis mengemuka terhadap PT Medco Energi Internasional Tbk dan pengelola Blok Andaman. Dr. T. Muhammad Nurdin, SH, M.Si, seorang akademisi dari Sekolah Tinggi Agama Islam Aceh Tamiang (STAI-AT), menyoroti bahwa jika perusahaan-perusahaan ini tidak memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan pemerintah Aceh, maka lebih baik mereka meninggalkan provinsi yang dikenal sebagai Serambi Mekkah ini.
Kritik Terhadap PT Medco dan Blok Andaman
Dalam seminar yang diselenggarakan oleh Himpunan Ilmuwan Sarjana Syariah Indonesia (HISSI) pada 15 Juni 2026, Nurdin menegaskan pentingnya kontribusi nyata dari kedua perusahaan migas tersebut untuk masyarakat Aceh. Ia mencatat bahwa hingga saat ini, program Corporate Social Responsibility (CSR) yang seharusnya memberikan manfaat bagi warga Aceh terasa tidak ada dampaknya.
Kritik yang disampaikan Nurdin didasarkan pada data dan fakta yang menunjukkan bahwa kehadiran PT Medco dan pengelola Blok Andaman tidak membawa perubahan signifikan bagi masyarakat setempat. Sejak memulai eksploitasi pada tahun 2012, setelah MoU Helsinki, perusahaan-perusahaan ini hanya meninggalkan jejak yang tidak berarti bagi masyarakat, seperti besi rongsokan.
“Apa yang sebenarnya diberikan oleh kedua blok migas ini bagi masyarakat, khususnya di Aceh Timur? Program CSR yang ada tidak memberikan manfaat yang berarti, terutama bagi warga di Blang Nisam dan sekitarnya,” tegas Dr. T. Muhammad Nurdin, yang lebih akrab disapa Popon.
Masalah CSR dan Pekerjaan Lokal
Nurdin juga menyoroti bahwa CSR yang ada tidak dirasakan secara menyeluruh oleh masyarakat. Ia berpendapat bahwa perusahaan penghasil minyak mentah harusnya memberikan kontribusi yang lebih besar kepada masyarakat setempat. Namun, kenyataannya, program-program tersebut tidak sampai kepada mereka yang paling membutuhkan.
Sejak PT Asamera beralih menjadi PT Medco di daerah Blang Nisam dan Alur Rambong, banyak yang bertanya-tanya mengenai manfaat yang dirasakan oleh warga lokal. Meskipun beberapa warga mendapatkan pekerjaan, hal itu hanya sebatas pekerjaan kasar dan tidak mencerminkan potensi yang seharusnya bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.
- Sebagian besar pekerjaan hanya tersedia untuk posisi rendah.
- Banyak warga setempat tidak mendapatkan akses ke peluang kerja yang lebih baik.
- CSR yang ada terbatas pada bantuan untuk beberapa masjid.
- Infrastruktur yang dibangun hanya mencakup beberapa kilometer jalan.
- Program pendidikan dan kesehatan yang seharusnya tersedia belum terwujud secara optimal.